Syarifuddin Suding: Polisi Terima Uang Dari Perusahaan di Mesuji
Tidak ada landasan hukum untuk membenarkan dana-dana itu masuk ke polisi, karena yang diamankan polisi bukan alat vital milik negara,

Jakarta, Seruu.com - Kepolisian, diduga diberi jatah uang rokok, makan, dan fasilitas tempat tinggal selama mereka mengamankan sengketa lahan di Kabupaten Mesuji, Lampung, serta Kecamatan Mesuji, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, sehingga mereka berpihak kepada perusahaan perkebunan yang menjadi tuan mereka.

 

“Tidak ada landasan hukum untuk membenarkan dana-dana itu masuk ke polisi, karena yang diamankan polisi  bukan alat vital milik negara,” kata Anggota Tim Pencari Fakta Mesuji,  Sarifuddin Sudding di Jakarta, Minggu (01/01).

Sudding mendapat laporan soal pemberian uang dari perusahaan kepada penegak hukum kepolisian itu ketika dia dan anggota tim mengunjungi lokasi sengketa lahan di Lampung, dan  Sumatera Selatan.

Tim, katanya, pemberian dana ke kepolisian ini akan menjadi focus kerjanya untuk membongkar pangkal sengketa tanah yang berujung kepada pelanggaran hak azasi manusia di Lampung dan Sumatera Selatan.

Sudding menyatakan, pemberian dana kepada polisi hanya diperkenankan apabila mereka mengamankan alat vital Negara, sedangkan PT SWA, PT Silva Inhutani Lampung (SIL), dan PT Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI), yang terlibat sengketa lahan dengan penduduk bukan termasuk alat vital negara.

“Tidak semua perusahaan merupakan alat vital negara. Yang dimaksud alat-alat vital negara menyangkut kepentingan umum, seperti, PLN dan Pertamina,” ujarnya.

Menurutnya, kebijakan pemerintah dan penegak hukum cenderung memihak pemilik modal. Buktinya, pemberian izin terhadap perusahaan untuk mengolah tanah tak jarang berkonflik dengan rakyat.

Deputi Direktur PT Sumber Wangi Alam (SWA) Ali Abdullah mengaku, dia  menyediakan makan, minum, uang rokok, dan tempat tinggal selama sebulan kepada anggota kepolisian untuk mengamankan pabriknya.

Pengamanan yang melibatkan penegak hukum itu berlangsung lebih dari 10 tahun dan mendapat restu dari pimpinanan mereka. Perusahaan yang mengolah sawit itu terlibat sengketa lahan dengan penduduk Desa Sei Sodong, Sumatera Selatan. [ms]

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU