Berikut Aksi Brutal Polisi Saat Menembak Mati Arif dan Syaiful, Dua Bocah Belasan Tahun, Versi Komnas HAM
Saeful Korban Tewas Akibat Tembakan Polisi di Bima

Jakarta, Seruu.com - Sungguh malang nasib Syaiful, 17 tahun. Niat hati menolong rekannya, Arif Rahman, 18 tahun, yang tertembak polisi, Syaiful malah mendapat 'hadiah' tembakan dari polisi. Syaiful dan Arif adalah dua korban tewas akibat tindakan represif polisi saat membubarkan warga yang memblokade Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, 24 Desember lalu.

Komisi Nasional (Komnas) HAM mencatat Syaiful dan Arif tewas sekitar 700 meter dari pelabuhan.

Wakil Ketua Komnas HAM Ridha Saleh menyebutkan Arif tertembak saat menyelamatkan diri dan lari dari pelabuhan. Saat lari, Arif dan warga lain tidak menggunakan jalan utama desa karena sudah ditutup polisi. "Warga yang meninggalkan pelabuhan lari melalui jalan kampung di Kampung Jala," ujar Ridha di kantornya, Selasa kemarin.

Saat lari itulah, Arif ditembak polisi di dada sebelah kiri. Menurut keterangan saksi, Komnas menyebutkan korban ditembak dari arah jalan utama yang sudah dikuasai aparat. Menurut data di jalan utama itulah, persis di depan SPBU Sape, polisi menempatkan pasukan dengan senjata api paling kuat.

Melihat Arif roboh, rekannya, Syaiful, datang membantu dari arah berlawanan, yaitu dari gang Desa Soro, Kecamatan Lambu. Saat hendak menolong Arif inilah, Syaiful ditembak di dada sebelah kanan. Menurut Ridha, sesaat setelah roboh, Arif dan Syaiful langsung dibawa oleh polisi ke rumah sakit.

Komnas mencatat, dalam penembakan yang dilakukan aparat pagi itu, hampir semua korban luka tembak mengaku tidak dalam posisi menyerang aparat saat ditembak. Mereka ada yang ditembak saat menyerahkan diri. Bahkan warga yang berniat menolong pun ikut menjadi sasaran polisi. Di antaranya terdapat korban perempuan dan anak-anak.

Korban tewas lainnya dalam kerusuhan pagi itu adalah Syarifudin, 46 tahun. Sesuai keterangan saksi, korban ikut aksi sejak 19 Desember. Saat polisi melakukan tindakan represif, Syarifudin ikut lari menyelamatkan diri. Namun, kemudian kakak korban menemukan korban jatuh tak jauh di depan rumah dalam kondisi ada bercak darah di bagian pantat dan basah berlumuran lumpur. Korban kemudian diangkat ke rumah dan meninggal sore harinya. "Kami masih mendalami penyebab tewasnya Syarifudin karena keluarga tidak mau diotopsi," ujar Ridha.

Selain aksi penembakan, aparat juga melakukan serangkaian tindakan kekerasan. Dalam video yang diputar Komnas HAM, warga yang sudah menyerah dan tidak bersenjata tetap dipukul dan ditendang. Bahkan ada yang dipukul dengan senjata sehingga kulit kepalanya robek. Komnas mencatat lebih dari 30 orang mengalami luka tembak dan belasan lainnya mengalami kekerasan. Sedangkan satu warga, Nasrulah, 30 tahun, warga Desa Melayu, Kecamatan Lambu, hingga kemarin masih belum kembali ke rumahnya.

Aksi brutal polisi di Sape ini bermula dari tindakan warga memblokir Pelabuhan Sape. Mereka menuntut Bupati Bima mencabut izin eksplorasi tambang yang diberikan kepada PT Sumber Mineral Nusantara melalui Surat Keputusan Bupati Nomor 188.45/357/004/2010. Izin eksplorasi pada areal seluas 24.980 hektare, yang mencakup Kecamatan Sape, Kecamatan Lambu, dan Kecamatan Langgudu, ini dinilai akan mengancam persawahan, ladang, dan sumber mata air rakyat. [ms]

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: star goldstar goldstar goldstar goldstar gold (1 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU