Komnas HAM Tuding Polisi Rencanakan Kekerasan di Sape : Polisi Punguti Proyektil Peluru Pasca Penembakan

Jakarta, Seruu.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menduga polisi langsung memungut selongsong peluru setelah melumpuhkan massa di Pelabuhan Sape, Bima. Dalam peristiwa pada 24 Desember itu, polisi menggunakan senjata tajam ketika membubarkan massa yang memblokade pelabuhan. Akibatnya, dua orang tewas tertembak.

"Setelah penembakan, polisi langsung mengumpulkan selongsong peluru," kata Wakil Ketua Komnas HAM Ridha Saleh kemarin. Akibatnya, kata dia, tak satu pun proyektil ditemukan tim Komnas di lokasi kejadian.

Temuan itu, kata Ridha, selain mencurigakan, memperkuat bukti rekaman video tentang suasana pascapenembakan. Beberapa polisi terlihat memegang senjata, berkeliling Pelabuhan Sape, dan memunguti selongsong peluru yang berserakan.

Komnas, menurut Ridha, belum menyimpulkan jenis peluru yang menerjang tubuh Arif Rahman, 18 tahun, dan Syaiful, 17 tahun. Alasannya, Komnas belum memperoleh akses untuk mencermati hasil otopsi dan analisis proyektil yang menembus tubuh dua korban tewas itu. "Kami menunggu karena pemeriksaan forensik otoritas Polri."

Wakil ketua Komnas lainnya, Nur Kholis, menambahkan, tindakan polisi memungut proyektil sangat mencurigakan. Dengan adanya cara itu, kata dia, bisa dianggap bahwa tindakan penembakan direncanakan. "Ini patut dicurigai ada apa-apanya."

Komnas, kata dia, juga mengumpulkan cerita dari beberapa saksi yang menyebutkan ada yang mencongkel peluru yang bersarang di tubuh korban sebelum mayat korban dilarikan ke rumah sakit. Informasi ini masih akan didalami.

Pada temuan awal Komnas disebutkan, ada pelanggaran hak asasi dalam pembubaran massa di Pelabuhan Sape. Temuan Komnas lainnya adalah korban tewas tiga orang, bukan dua orang seperti dilansir polisi. Satu korban tersebut bernama Syarifudin, 46 tahun. Sedangkan korban luka tembak 30 orang. “Itu belum termasuk korban luka tembak yang kini ditahan.”

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Kepolisian RI Brigadir Jenderal H.M. Taufik menyatakan segera membahas temuan Komnas HAM tersebut. "Temuan Komnas HAM perlu ada sinkronisasi dengan temuan internal kami," kata Taufik kemarin.

Sejauh ini, kata dia, penyidik telah menetapkan lima anggota kepolisian sebagai tersangka. Mereka akan dihadapkan pada sidang pelanggaran disiplin dan tidak tertutup kemungkinan mereka akan dilimpahkan ke pengadilan umum. [ms/simon]

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: star goldstar goldstar goldstar goldstar gold (1 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU