Disaat Polisi Penganiaya Warga di Bima Hanya Divonis 3 Hari, 2 Kakak Beradik Tewas di Tahanan Polsek Dengan Luka Siksaan
Korban Penembakan di Bima saat diangkat aparat (istimewa)

Jakarta, Seruu.com - Tragedi hukum kembali terjadi di Indonesia. Sebuah ironi yang sebenarnya sudah lama terjadi di negeri ini kembali terungkap dan dipertontonkan di depan publik. Pengadilan memutus bersalah terhadap terdakwa kasus pencurian sendal jepit, AAL (15 tahun) milik seorang polisi, sementara Polisi hanya menjatuhkan kurungan 3 hari kepada aparatnya yang menganiaya warga dalam penyerangan aparat ke Pelabuhan Sape, Bima , Nusa Tenggara Barat.

Ironi yang lebih menyakitkan adalah tewasnya dua kakak beradik dengan tubuh penuh luka penganiayaan di tahanan Polsek Sijunjung. Dua bocah berusia belasan itu ditahan karena dituduh melakukan pencurian kotak amal. Namun Polisi justru bersikeras keduanya bunuh diri meskipun bukti menunjukan bahwa tulang tengkorak salah satu jenazah dalam kondisi lunak dan darah segar masih mengucur dari hidungnya saat keluarga memeriksa jenazah tersebut.

Peristiwa yang baru diungkap ke publik oleh Roni Saputra, Direktur LBH Padang hari ini, Jumat (06/1/2012) tersebut semakin mencurigakan karena dalam penuturan Roni, Keluarga FS (14) dan G (17), dua kakak beradik yang tewas tersebut keluarga harus menandatangani surat perdamaian sebelum mengambil mayat keduanya. Dalam surat perjanjian itu, keluarga harus mengikhlaskan kematian keduanya.

"Sebelum membawa jasad anaknya, keduanya diminta polisi untuk menandatangani surat perdamaian yang isinya bahwa pihak keluarga mengikhlaskan kematian anaknya, FS dan G," kata Kordiv Pembaruan Hukum LBH Padang, Roni Saputra, Jumat (6/1/2012).

AAL, FS dan G tiga bocah belasan tahun harus berhadapan dengan kerasnya pisau hukum di negeri ini, yang terasah sangat tajam untuk mengadili orang-orang kecil tanpa pandang bulu apakah itu perempuan, laki-laki, dewasa maupun anak-anak, asalkan dia bukan siapa-siapa di negeri ini dan tidak punya apa-apa maka habislah mereka.

"Hukuman itu cermin paradigma yang terbalik. Hukum yang keras menimpa rakyat. Hukuman yang lunak dinikmati aparat," ujar akitivis Hak Asasi Manusia, Usman Hamid, Jumat (06/1/2012).

Menurutnya, hukuman ringan yang dijatuhkan kepada polisi sebagai aparat penegak huku justru akan membuat rekan-rekannya tidak kapok. "Idealnya, tidak boleh ada toleransi terhadap penyiksaan. Bukan hanya kapok, tapi agar tidak ditiru oleh instansi pemerintah lainnya," tukasnya.

Usman mengatakan, hukuman tersebut hanya segelintir cerita dari kultur lama aparat keamanan yang ingin kebal hukum.

"Kasus-kasus hukuman ringan ke aparat biasanya dijelaskan sebagai hukuman yang sudah sangat keras. Lebih keras dibanding hukuman terhadap warga sipil. Padahal, penjelasan itu mencerminkan kebodohan hukum, sikap culas dan tak bertanggungjawab kepada sumpah jabatan, hukum dan konstitusi," ujar mantan Koordinator Kontras tersebut. [musashi]

 

 

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU