Tergantung Dengan Minyak Iran, Korsel Ajukan Pengecualian Terkait Rencana Embargo AS ke Iran

Seoul, Seruu.com - Korea Selatan akan meminta pengecualian terkait dengan sanksi baru AS yang akan membatasi ekspor minyak mentah , seorang pejabat senior Korsel di Seoul Jumat (06/1/2012).

"Ini adalah masalah yang menjadi perhatian serius bagi kita," kata pejabat itu kepada AFP pada kondisi anonimitas, mencatat bahwa Iran adalah pemasok utama minyak mentah ke Korea Selatan.

Dalam 11 bulan pertama November tahun lalu, Korea Selatan mengimpor 8.160.000 barel minyak mentah dari Iran, sebesar 9,6 persen dari total impor minyak mentah negeri gingseng tersebut.

"Kita tidak bisa kehilangan sumber penting minyak dan kita harus mendapatkan pengecualian dari pelaksanaan sanksi," kata pejabat itu.

Sanksi baru AS diarahkan ke bank sentral Iran, yang sebagian besar memproses penjualan minyak.Mereka secara efektif akan membuat perusahaan-perusahaan asing memilih antara berbisnis dengan republik Islam atau Amerika Serikat.

Tapi dalam penerapannya Presiden Barack Obama mengisyaratkan masih memberi keringanan 120 hari untuk lembaga di negara yang secara signifikan memotong transaksi lainnya dengan Iran.

"Melalui penurunan yang signifikan dalam transaksi dengan Iran, kita ingin diberikan pengecualian. Kita perlu berbicara dengan Amerika Serikat untuk memutuskan apa yang mungkin merupakan penurunan yang signifikan," kata pejabat itu.

Dia mengatakan pembicaraan akan dimulai setelah Amerika Serikat dan negara-negara lain membahas koordinasi atas sanksi baru.

Industri Korea Selatan, yang mengimpor semua minyak mentah, merupakan sekutu dekat Amerika Serikat, yang menampung 28.500 tentara AS di negara itu.

Seoul dalam beberapa bulan terakhir telah menambah lebih dari 100 nama perusahaan dan Indovidu Iran ke daftar hitam, bergabung dengan upaya multinasional untuk menekan Iran menghentikan program senjata nuklirnya yang dicurigai.

Tapi sejauh ini Korsel tidak mengumumkan larangan impor petrokimia atau minyak mentah.

"Kami sedang bekerja menuju meminimalkan dampak negatif (sanksi AS terhadap Iran) yang bisa saja terjadi pada perekonomian kita," kata jurubicara kementerian luar negeri Cho Byung-Jae Selasa.

"Kita sedang dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat tentang masalah ini."

Kurt Campbell, pejabat Departemen Luar Negeri AS Asia, Kamis mengakui bahwa RUU itu adalah sumber dari beberapa keprihatinan di Korea Selatan.

"UU baru (sanksi terhadap Iran) menciptakan beberapa kekhawatiran di Korea Selatan. Kami memahami hal ini dan kami berkomitmen untuk menggelar koordinasi dan kerjasama dengan Korea Selatan secara lebih maju dalam masalah ini," katanya kepada wartawan. [musashi]

BAGIKAN
KOMENTAR SERUU