Negara Terbaru di Dunia Dilanda Kerusuhan
Sudan Selatan Ilustrasi (Istimewa)
"Kebanyakan ketidakstabilan dalam negeri yang terjadi baru-baru ini . Tentu memiliki hubungan dengan SPLM/A (tentara dan partai yang berkuasa) sendiri, yang melibatkan kaum elit yang mesti menyelesaikan masalah di antara mereka,"

Jakarta Seruu.com - Enam bulan lalu rakyat  Sudan Selatan  dipenuhi kebahagiaan saat mereka memproklamasikan kemerdekaan. Kini, Sudan Selatan dilanda konflik, pembunuhan dan ketegangan antar suku.

Dua dasawarsa perang dengan mantan musuhnya dari negara Sudan Utara membuat wilayah Sudan Selatan terbelakang di tengah reruntuhan. Pasukan milisi  bertikai dan perpecahan sengit di antara suku yang berjumlah banyak.

Pada Jumat (6/1/2012), seorang pejabat senior dari wilayah Jonglei menyatakan ribuan orang tewas dalam gelombang kerusuhan antarsuku pekan sebelumnya.

Joshua Konyi, komisaris bagi Kabupaten Pibor di negara bagian Jonglei, mengatakan 3.141 orang telah tewas. PBB dan para pejabat militer Sudan Selatan belum mengkonfirmasi jumlah korban jiwa, yang akan jadi wabah kerusuhan etnik terburuk yang pernah terlihat di negara yang baru muncul.

Selain konflik dalam negeri, Sudan Selatan menghadapi ketegangan di wilayah penghasil minyak di sepanjang perbatasan yang ditetapkan secara buruk dengan Sudan Utara; masing-masing pihak menuduh pihak lain mendukung kelompok perlawanan sementara banyak pengulas memperingatkan adanya resiko perang habis-habisan.

Pada penghujung Desember, Juba (Sudan Selatan) menuduh Khartoum (Sudan Utara) membunuh 17 warga sipil dalam dua hari pemboman terhadap perbatasan Bahr al-Ghazal Barat, Sudan Selatan. Sudan Utara telah membantah tuduhan tersebut.

Masalah yang paling mendesak bagi negara yang baru "seumur jagung" itu yang memiliki luas seperti gabungan negara Spanyol dan Portugal tapi segelintir jalan yang diaspal di luar ibukotanya, "tak diragukan adalah keamanan", kata Giorgio Musso, profesor di University of Genoa, di dalam tulisan pada Oktober.

Sejak kemerdekaan Sudan Selatan, bekas tentara pemberontak Sudan telah mengalahkan beberapa pemimpin pemberontak --dan menewaskan sebagian pemimpin. Sementara itu, pemimpin lain merundingkan penyerahan diri dan anak buah mereka bergabung dengan militer, yang sudah memiliki 100.000 personel dan terpecah sejalan dengan kelompok suku.

"Kebanyakan ketidakstabilan dalam negeri yang terjadi baru-baru ini . Tentu memiliki hubungan dengan SPLM/A (tentara dan partai yang berkuasa) sendiri, yang melibatkan kaum elit yang mesti menyelesaikan masalah di antara mereka," Musson menambahkan sebagaimana dikutip AFP.[ant/ast]

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU