Kontras Ungkap Kematian Mahasiswa Anak Petani Jambi Ditahanan Polisi

Jambi, Seruu.com - Seorang anak petani yang juga mahasiswa di STIE Sungai Penuh, Jambi, diduga tewas tidak wajar setelah aparat Polsek Gunung Kerinci menangkapnya 20 Oktober 2011 lalu. Bukan hanya kematian sang mahasiswa yang misterius, alasan penangkapan juga tidak jelas.

"Sangkaan dan tuduhan tidak pernah ada klarifikasi. Tidak pernah ada surat penangkapan," kata Koordinator KontraS, Haris Azhar, Senin (9/1).

Mahasiswa tersebut bernama Neka Pratama (21) anak semata wayang dari pasangan Sinarifin (47) dan Rajanis (37), yang bermata pencaharian sebagai petani dan menetap di Dusun II Mukai Mudik, Kecamatan Siulak, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.

Kronologi dari mulai penangkapan hingga tewasnya Neka tercatat dalam berkas yang juga disertai beberapa luka yang dialami Neka. 20 Oktober 2011, Neka dicokok aparat Polsek Sungai Penuh saat tengah berada di dalam kampusnya di STIE Sungai Penuh, sekitar pukul 12.00 WIB.

Melihat penangkapan atas Neka, Satpam kampus dan juga teman dekat perempuan korban, Era, mengikuti korban ke Polsek.  Keluarga mendapatkan kabar penangkapan dan penahanan Neka sekitar pukul 13.00 WIB. Mendengar kabar tersebut, keluarga korban berupaya menjenguk Neka sekitar pukul 19.15 WIB.

"Tetapi kami dilarang melihatnya dengan alasan sedang dalam proses," tulis Sinarifin dan Rajanis dalam sebuah pernyataan kronologis peristiwa dan kematian puteranya bermaterai Rp 6 ribu tersebut dan ditandatangani keduanya.

Karena tidak diizinkan masuk, keluarga akhirnya pulang dan mencoba menjenguk Neka keesokan harinya sekitar pukul 07.30 WIB, sambil membawa nasi. "Tetapi kami tidak dapat melihat wajah anak kami tersebut," tutur keduanya.

Pukul 10.00 WIB, keluarga nekat untuk menemui Kapolsek Sungai Penuh untuk meminta restu menemui Neka. Lagi-lagi upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Alasannya Neka tengah diperiksa dan dan tidak boleh ditemui. Keluarga pun akhirnya pulang ke rumah tanpa melihat batang hidung anaknya tersebut.

"Tidak diduga-duga saat Shalat Jumat sekitar 12.30 WIB, Neka telah berada di ICU RSU MH A. Thalib, Sungai Penuh. Kabarnya diantar anggota polisi ke ruang ICU," ujar keduanya.

Pukul 16.00 WIB sore harinya, anggota Polsek Sungai Penuh mendatangi kediaman orangtua Neka di Mukai Mudik. Mereka memberitahukan bahwa Neka tengah dirawat di ICU RSU MH A. Thalib. "Kami langsung menuju ke tempat anak kami dirawat dan mendapati anak kami sudah meninggal dunia," imbuh Sinarifin dan Rinjanis.

Menurut Haris, berkas yang diterima pihaknya tersebut sudah dikirimkan ke pihak Mabes Polri agar menindaklanjuti kejanggalan tewasnya Neka. "Sampai saat ini tidak pernah ada balasan," ujar Haris.

Beberapa foto menunjukan luka-luka yang terdapat di tubuh Neka, diantaranya lebam di pinggang kiri, luka robek di bibir, sayatan di bawah leher, sayatan di kaki, dan dagu sobek.  "Pasca meninggalnya polisi tidak pernah menjelaskan kepada keluarga penyebab kematian Neka," kata Haris.

Dia berharap polisi mampu menjawab tanda tanya keluarga atas tewasnya Neka. Dia meminta Kepala Polsek untuk diperiksa terkait peristiwa tersebut. [simon]

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU