Pong : Rakyat Menderita Karena Kebijakan Negara Yang Neolib
Saat ini rakyat telah menjadi korban dari kebijakan neoliberalisme,melalui tangan pemerintah, para pemilik modal difasilitasi untuk melakukan perampasan atau pengusuran lahan perkebunan milik rakyat,"

Jakarta, Seruu.com - Sejumlah tokoh oposisi yang selama ini rajin memberikan kritiknya kepada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono siang tadi mengunjungi ratusan petani Pulau Padang yang hingga detik ini masih bertahan di gerbang DPR untuk memperjuangkan hak mereka atas tanah.

Dalam kesempatan tersebut selain berdialog dan memberikan sejumlah orasi, para tokoh juga membawa sejumlah alat kritik berupa Kacamata Baca dan Korek Kuping raksasa untuk SBY dan Anggota Dewan yang buta tuli atas penderitaan rakyat.

"Kacamata dan korek kuping ini buat para wakil rakyat dan SBY yang sudah buta dan tuli atas penderitaan rakyat," ujar Permadi SH, dalam orasinya di depan gerbang DPR RI, Senin (09/1/2012).

Sementara itu,Pong Harjatmo, mengatakan bahwa pemerintah saat ini sudah tidak lagi mendengarkan aspirasi rakyat. "Pemerintah saat ini lebih peduli kepentingan pemilik modal dari pada rakyatnya. Jadi dalam aksi selanjutnya kita bawa korek kuping sebagai simbol bahwa Presiden SBY bisa mendengarkan jeritan rakyat jelata," tegas Pong.

Menurut Pong saat ini rakyat tidak hanya menjadi korban dari kemiskinan yang dideritanya namun juga karena kebijakan pemimpin negara yang memiskinkan mereka.

"Saat ini rakyat telah menjadi korban dari kebijakan neoliberalisme,melalui tangan pemerintah, para pemilik modal difasilitasi untuk melakukan perampasan atau pengusuran lahan perkebunan milik rakyat," tandasnya..

Jadi lanjut Pong, praktek neoliberalisme dilakukan pemerintah menjadi sumber konflik agraria yang menyingkirkan akses rakyat dari tanahnya sendiri. "Sementara regulasi yang disediahkan oleh negara justru tidak dapat menciptahkan keadilan agraria," pungkasnya.

Satu bulan lebih aksi yang sempat diwarnai jahit mulut puluhan petani tersebut dilangsungkan di depan DPR RI. Namun hingga detik ini belum ada tindaklanjut yang signifikan dari pemerintah atas tuntutan warga dan petani yang memperjuangkan hak mereka atas tanah yang dirampas oleh Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) tersebut. [simon salakory]

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU