Komnas Anak : Mabes Polri Lakukan Kebohongan Publik Dalam Kasus Sendal Jepit
AAL saat memberikan testimoni di Komnas Perlindungan Anak

Jakarta, Seruu.com - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menuding Mabes Polri membuat kebohongan publik terkait kasus pencurian sandal jepit milik polisi yang didakwakan kepada AAL, siswa SMKN 3 Palu, Sulawesi Tengah.

Sekretaris Jenderal Komnas PA Samsul Ridwan mengatakan, kebohongan yang dimaksud adalah pernyataan Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Saud Usman Nasution yang menyebut kasus AAL diproses hukum atas permintaan orangtuanya.

"Bahwa seakan-akan keluarga AAL menantang polisi agar kasusnya dinaikkan ke meja hijau. Saya kira ini kebohongan publik. Karena dia mendapatkan informasi secara sepihak," kata Samsul saat mendampingi AAL memberikan testimoni di Kantor Komnas PA, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (11/1).

Menurut Samsul, Mabes Polri hanya mendengar penjelasan dari jajarannya di Palu. Padahal, informasi bisa juga didapat dari keluarga atau Kuasa Hukum AAL.

"Kami menyayangkan sekali dan mohon polisi bisa lebih jernih, objektif memberikan statemen dengan berbagai informasi dari berbagai pihak. Jangan hanya dari anak buahnya di daerah, kemudian dijadikan dasar utama," tandas Samsul.

Dijelaskan Samsul, kasus bermula saat AAL menemukan sandal jepit merek Ando, sekitar 30 meter dari pagar rumah kosan Briptu Rusdi Harahap, November 2010. Sandal itu dibawa pulang oleh AAL.

Pada Mei 2011, saat AAL lewat rumah kosan Rusdi, ia dipanggil oleh Rusdi dan seorang polisi lainnya, Briptu Simson. Rusdi menanyakan apakah AAL mencuri sandal jepit Eiger miliknya. Rusdi mengaku sudah tiga kali kehilangan sandal.

Saat interogasi, AAL dipukul oleh Rusdi dan Simson. AAL dipaksa mengaku mencuri sandal. Namun, AAL mengatakan hanya pernah menemukan sandal merek Ando di luar pagar. Rusdi menyuruh AAL mengambil sandal itu, dan barang itu dijadikan barang bukti.

Tak terima anaknya dipukul, orangtua AAL mengadukan Briptu Rusdi dan Briptu Simson ke Profesi dan Pengamanan Polda Sulteng. Namun, kedua polisi itu meminta laporan dicabut. Bila laporan diteruskan, mereka akan melaporkan AAL terkait kasus pencurian sandal.

Keluarga AAL menolak mencabut laporan soal penganiayaan anak mereka. Kedua polisi itu pun melaporkan AAL ke polsek setempat. Meski barang yang dilaporkan dicuri berbeda, kasus tersebut tetap diproses oleh petugas Polsek. Keluarga AAL menilai kasus dipaksakan.

Versi Mabes Polri, orangtua AAL yang meminta tuduhan kepada anaknya dibuktikan lewat pengadilan. Mabes Polri mengaku jajarannya sudah memberi pemahaman bahwa AAL masih di bawah umur, dan hanya butuh pembinaan. Namun, orangtua ngotot minta proses hukum dilanjutkan.

Samsul menilai, pernyataan itu sebagai bentuk arogansi polisi. "Saya kira istilahnya tidak hanya egois, tapi arogansi polisi. Mereka punya kekuasaan, mereka penegak hukum, tapi tidak menegakkan keadilan," kata Samsul.

Pengadilan memvonis AAL bersalah karena telah mengambil barang yang bukan miliknya. Namun, AAL tidak ditahan. Ia dikembalikan ke orangtuanya karena masih di bawah umur. Meski begitu, kuasa hukum AAL akan mengajukan banding.

Sebelumnya Kejaksaan Agung dalam pernyataan persnya Rabu 4 Januari 2012 terkait kasus tersebut menyatakan dengan tegas bahwa kasus sendal jepit butut yang mendudukan AAL sebagai terdakwa bergulir ke pengadilan dikarenakan desakan dari korban yang juga pelapor yaitu Briptu Ahmad.

Juru Bicara Kejaksaan Agung, Noor Rachmad juga mengungkapkan bahwa kejaksaan bahkan berulangkali meminta agar kasus ini diselesaikan diluar pengadilan.

Sejak P18 - P19 (pemberkasan) kita (jaksa) sudah minta diselesaikan secara kekeluargaan. Mengingat barangnya kecil, pelakunya juga anak-anak. Tapi ini bukan delik aduan dan pihak korban bersikeras bawa kasus ini ke pengadilan," paparnya. [musashi]

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU