Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN di Siem Reap, Kamboja

Seruu.com - Pada tanggal 10-11 Januari 2012, telah diselenggarakan ASEAN Foreign Ministers (AMM) Retreat yang dihadiri oleh seluruh Menlu negara anggota ASEAN dan Sekretaris Jenderal ASEAN di Siem Reap, Kamboja. Pertemuan AMM Retreat dipimpin oleh Menlu Kamboja, Hor Namhong, yang sekaligus bertindak sebagai tuan rumah. 

 

AMM Retreat di Siem Reap ini merupakan pertemuan pertama dari Keketuaan Kamboja untuk ASEAN pada tahun 2012 dengan tema “One Community, One Destiny”.  Indonesia diwakili oleh Menteri Luar Negeri RI, Dr. Marty Natalegawa.

Sepanjang tahun 2012, selaku Ketua ASEAN, Kamboja akan mendorong 4 (empat) prioritas pada masa Keketuaannya, yaitu:
 

1.Memajukan integrasi ASEAN beserta ketiga pilar Komunitas ASEAN, yakni politik-keamanan, ekonomi, dan sosial-budaya, melalui implementasi Roadmap for an ASEAN Community 2009-2015;

2. Meningkatkan upaya integrasi di kawasan melalui implementasi Initiative for ASEAN Integration (IAI) Work Plan II secara efektif yang sangat penting bagi pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015;

3. Memastikan percepatan implementasi Master Plan on ASEAN Connectivity dengan fokus kepada infrastruktur, institusi, serta masyarakat; dan

4. Meningkatkan dan mempererat kerja sama dengan Mitra Wicara ASEAN dan organisasi kawasan lainnya dengan mepertahankan sentralitas ASEAN dalam perkembangan arsitektur kawasan.
 

Agenda AMM Retreat membahas isu-isu kawasan dan global yang menjadi perhatian bersama ASEAN, khususnya masalah politik dan keamanan. Secara umum, para Menlu ASEAN telah sepakat meningkatkan kerjasama dan menindaklanjuti beberapa inisiatif yang telah bergulir selama ini, khususnya yang diprakarsai oleh Indonesia saat menjadi Ketua ASEAN di tahun 2011 yang lalu. 

Para Menlu ASEAN juga membahas dan mengantisipasi berbagai isu yang terus berkembang, seperti masalah Semenanjung Korea, keamanan di Laut China Selatan, demokratisasi dan proses transformasi Myanmar, Traktat kawasan bebas nuklir di kawasan Asia Tenggara maupun kerjasama fungsional seperti penanganan bencana, serta mendorong integrasi di kawasan.

Pembahasan di AMM Retreat secara spesifik membahas topik antara lain proses pembentukan Komunitas ASEAN yang difokuskan pada ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) dan dukungan terhadap penyusunan Deklarasi HAM ASEAN, implementasi dari Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC), dan penanggulangan bencana.

Topik lainnya yang telah dibahas meliputi penyelesaian proses aksesi Nuclear Weapons States terhadap South East Asian Nuclear Weapon-Free Zone (SEANWFZ) Treaty, kerja sama kelautan, ASEAN Global Dialogue, Konektivitas ASEAN, serta upaya tindak lanjut Bali Concord III.

Para Menlu juga membahas rencana tindak lanjut salah satu capaian penting KTT ke-19 ASEAN di Bali yang lalu yaitu pembahasan awal mengenai perlunya menyusun suatu Plan of Action 2012-2022 melalui prakarsa Indonesia, dalam rangka mengimplementasikan Bali Concord III.

Menlu Indonesia pada AMM Retreat telah mendorong upaya peningkatan agenda kerjasama maritim (maritime cooperation) di kawasan.  Sebagai archipelagic state terbesar di dunia, Menlu RI memandang bahwa wilayah kelautan sangat memiliki potensi bagi peningkatan kerjasama dalam berbagai bidang kerjasama maritim.  Selain itu, kerjasama maritim yang semakin intensif juga dapat membantu menciptakan suasana kondusif di bidang kelautan yang dapat bermanfaat bagi ASEAN maupun Negara di luar kawasan ASEAN.


Dalam upaya menjadikan Asia Tenggara dan dunia terbebas dari senjata nuklir, Indonesia terus mendorong agar protokol Nuclear Weapons States terhadap SEANFWZ dapat ditandatangani oleh para Negara pemilik senjata nuklir pada bulan Juli 2012, yaitu pada saat 45th AMM/PMC/ARF.

Terkait isu Myanmar, para Menlu ASEAN mengapresiasi upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Myanmar dan mengharapkan suasana kondusif dapat terus ditingkatkan.  ASEAN mempertegas dukungannya terhadap proses demokratisasi dan transformasi yang berjalan saat ini serta menyerukan kembali pencabutan sanksi terhadap Myanmar.

Meningkatnya bencana alam di kawasan akhir-akhir ini juga telah mendorong para Menlu untuk membicarakan upaya agar pusat penanganan bencana alam di kawasan atau ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on Disaster Management (AHA Centre) dapat segera beroperasi dan terkoneksi secara operasional dengan lembaga penanganan bencana di setiap negara anggota ASEAN.

Dalam pembahasan mengenai konektivitas ASEAN, para Menlu mengharapkan kerjasama yang lebih konkrit dengan keterlibatan negara Mitra dan pihak eksternal ASEAN lainnya yang lebih besar lagi.

Berbagai inisiatif dalam pengembangan konektivitas baik dalam bidang infrastruktur, kelembagaan maupun hubungan antar-masyarakat yang tercermin dalam Master Plan on ASEAN Connectivity (MPAC) sangat berdampak bagi proses integrasi dan peningkatan daya saing kawasan. Disamping itu, konektivitas ASEAN akan mendukung pula upaya peningkatan kesejahteraan masyarakatnya dan membantu mengatasi kesenjangan ekonomi. [kml]

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU