Polisi Periksa 2 Korban Penembakan Dalam Tragedi Sape Sebagai Tersangka
Polisi Saat memeriksa korban penembakan Sape di RSUD Bima

Bima, Seruu.com - Dua warga Lambu yang menjadi korban penembakan pada “Tragedi Sape Berdarah”, Awaludin dan Syahbuddin, Selasa siang diperiksa sebagai tersangka oleh polisi. Sebelumnya, kedua korban dirujuk ke Rumah Sakit Umum Provinsi NTB di Mataram, karena harus menjalani operasi akibat luka tembak saat insiden di Pelabuhan Sape, 24 Desember 2011.Keduanya diperiksa di ruang kelas II VIP B RSUD Bima.

Selama proses pemeriksaan berlangsung, Penasehat Hukum (PH) mereka yakni Gufran, SH, terlihat setia menemani kedua korban. Bahkan penyidik tersebut belum berani mengambil keterangan dari kedua korban sebelum PH mereka tiba di lokasi tersebut. Sementara di luar ruangan tersebut terlihat sejumlah aparat kepolisian yang menggunakan seragam lengkap melakukan penjagaan.

Kepada wartawan media lokal Gomong.com, Gufran menjelaskan, sesuai dengan petunjuk dari pihak RSUP NTB, setelah proses pengambilan keterangan dan pembuatan berita acara selesai, ia akan segera mengajukan surat penangguhan penahanan terhadap kedua kliennya itu. Pasalnya, keduanya harus menjalani perawatan selama tiga bulan.

“Untuk korban luka tembak yang dioperasi seperti ini, apalagi lukanya di bagian kaki, tidak diperbolehkan untuk menyentuh tanah selama tiga bulan, dan mereka harus dalam perawatan terus,” jelasnya.

Diakui Gufran, proses pemeriksaan ataupun pembuatan berita acara terhadap kedua korban luka tembak itu dilakukan karena berdasarkan keterangan dari dokter keduanya sudah dalam keadaan sehat. “Mereka ini memang sudah sehat, tapi kondisi luka bekas operasi masih parah,” tegasnya.

55 Tersangka, 7 Anak-anak dan 5 Perempuan

Selain memperjuangkan nasib kedua korban luka tembak itu, Gufran juga memperjuangkan nasib 55 warga Lambu lainnya yang terlibat saat insiden Pelabuhan Sape. Ke 55 warga Lambu tersebut sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka, namun 12 di antaranya sudah ditangguhkan penahanannya. Sementara satu lainnya, Warsih (20) warga Rato (Lambu) saat ini tengah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Mataram karena mengalami depresi berat. “Dari 12 orang yang ditangguhkan itu, tujuh di antaranya anak-anak dan lima lainnya adalah perempuan,” ujarnya.

Terkait kondisi Warsih sendiri, Gufran mengaku hingga saat ini belum mengetahui perkembangannya. Karena, menurutnya, tidak ada pihak yang bisa ia hubungi di sana. Namun, berdasarkan informasi yang pernah ia terima, pihak kepolisian tetap melakukaan penjagaan di rumah sakit tersebut. “Kabarnya, polisi tetap jaga di sana, tapi perkembangannya seperti apa saya tidak tau sama sekali,” tuturnya.

Nur (21), salah seorang keluarga Awaluddin yang ditemui di RSUD Bima mengaku, saudaranya itu mulai dirawat di RSUD Bima sejak Rabu (11/1) lalu. Selama itu pula pihak kepolisian melakukan penjagaan. “Saudara saya ini dari Mataram hari Selasa, mereka menggunakan mobil Ambulance ke sini, setiap hari tetap ada polisi yang jaga,” ujarnya.

Sementara dari ketiga anggota penyidik yang melakukan pemeriksaan tersebut, tidak seorang pun yang mau memberikan keterangan. Mereka menyarankan wartawan untuk melakukan konfirmasi langsung dengan Kapolres  Bima Kota. “Langsung sama Pak Kapolres saja, kami tidak bisa memberikan keterangan,” ujar salah seorang dari mereka. [gomong/ndis]

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: star goldstar goldstar goldstar goldstar gold (1 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU