SeruuMart - Digital Marketplaces
             Selasa, 25 Juli 2017
Tags Popular
Krisis Eropa Paksa Bank Dunia Revisi Proyeksi Global
euro

Seruu.com - Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan global pada 2012 karena krisis utang di Eropa yang berlarut-larut dan pelemahan pertumbuhan di beberapa negara berkembang besar. "Negara-negara berkembang perlu untuk mengevaluasi kerentanan mereka dan mempersiapkan diri terhadap guncangan lebih lanjut," kata Ekonom Kepala Bank Dunia Justin Yifu Lin dalam keterangan proyeksi ekonomi global terbaru di Jakarta, Rabu (18/1/2012).

Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan untuk 2012 menjadi 5,4 persen untuk negara berkembang dan 1,4 persen untuk negara-negara berpenghasilan tinggi atau minus 0,3 persen untuk Kawasan Eropa.

Proyeksi tersebut turun dari estimasi Juni sebesar 6,2 persen untuk negara berkembang dan 2,7 persen untuk negara-negara berpenghasilan tinggi atau 1,8 persen untuk Kawasan Eropa. .

Justin menyebutkan pelambatan pertumbuhan sudah terlihat dari pelemahan perdagangan global dan harga komoditas.

Ekspor global barang dan jasa diperkirakan mencapai 6,6 persen pada 2011 atau turun dari 12,4 persen pada 2010, dan diproyeksikan meningkat hanya 4,7 persen pada 2012.

Sementara, penurunan harga komoditas telah memberikan kontribusi kepada penurunan laju inflasi di kebanyakan negara berkembang.

Bank Dunia juga mencatat meskipun harga pangan internasional menurun dalam beberapa bulan terakhir atau turun 14 persen dari puncaknya pada bulan Februari 2011 namun keamanan pangan bagi negara miskin, termasuk di kawasan Afrika Timur, tetap menjadi perhatian utama.

Direktur Prospek Pengembangan Bank Dunia Hans Timmer mengatakan saat ini negara berkembang memiliki sedikit ruang fiskal dan moneter dibandingkan upaya penanganan krisis pada 2008 dan 2009.

Akibatnya, kemampuan mereka untuk merespon sangat terbatas apabila terjadi kekeringan likuiditas keuangan internasional dan kondisi global memburuk tajam.

"Negara berkembang harus mempersiapkan pembiayaan defisit anggaran, memprioritaskan pengeluaran untuk jaring pengaman sosial dan infrastruktur serta ketahanan bank domestik," ujar Hans. [ms]

BAGIKAN
KOMENTAR SERUU