Pengakuan Ketua YLKI : Ayah Saya Perokok Berat dan Tetap Sehat
Massa petani tembakau yang berbondong mendatangi kantor YLKI, Rabu (4/7/2012) kemarin (Foto: Priambodo/Seruu.com)
Ayah saya perokok berat, umurnya sampai 84 tahun, sehat, dan meninggalnya bukan karena rokok. Kakak saya juga perokok berat, dan tetap sehat. Bahkan saya sendiri merokok hingga berhenti 5 tahun lalu. Saya tidak pernah mengatakan bahwa rokok adalah penyebab tunggal penyakit berat - Tulus Abadi

Jakarta, Seruu.com - "Ayah saya perokok berat, umurnya sampai 84 tahun, sehat, dan meninggalnya bukan karena rokok. Kakak saya juga perokok berat, dan tetap sehat. Bahkan saya sendiri merokok hingga berhenti 5 tahun lalu. Saya tidak pernah mengatakan bahwa rokok adalah penyebab tunggal penyakit berat."

Begitulah penuturan Tulus Abadi, ketua harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), disaksikan oleh tak kurang dari 50 petani tembakau yang berbondong mendatangi kantor YLKI, Rabu (4/7/2012) kemarin.

Pernyataan ini cukup mengejutkan semua yang hadir saat itu. Pasalnya, jamak diketahui bahwa Tulus Abadi adalah salah satu pentolan kampanye antirokok di Indonesia, di samping nama lain semisal Kartono Mohamad dan Abdillah Ahsan. Tulus menceritakan itu setelah para petani membeberkan realitas di sekeliling mereka, bahwa perokok kretek begitu banyak, namun tak ada satu pun yang mengidap kanker paru-paru dan semacamnya.

Sesaat setelah mendengar pernyataan Tulus yang istimewa itu, tiba-tiba salah seorang petani dari Lumajang menyambar selebaran yang ada di atas meja tamu ruang depan YLKI. "Lho, kok beda sama di sini, Pak?" petani tersebut bersuara keras.

Kertas selebaran ditunjukkan. Judulnya "Publik Mendesak Menkes untuk Tidak Ulur Lagi Pengesahan RPP Pengamanan Produk Tembakau".

Si petani, menunjuk kalimat pertama pada paragraf ke-3, yang berbunyi: "Terbukti semakin banyak korban rokok berjatuhan..." sementara, tertera jelas nama Tulus Abadi sebagai penanggung jawab tulisan pada selebaran tersebut.

Massa petani mulai tampak emosional. Iteng Ahmad Surowi, salah satu sesepuh rombongan petani yang datang, lantas menimpali dengan keras, "Tuh, Pak Tulus tidak konsisten! Baru saja menyatakan rokok bukan sebab tunggal penyakit, tapi di selebaran ini berkata lain! Kami jelas tahu kenapa begitu, ya karena Bapak dibayar besar untuk menulis beginian!" sergah petani. Sementara Tulus Abadi memilih berdiam diri mendengar kalimat itu. 

Sebelumnya YLKI dalam pernyataannya mengakui menerima sekitar 5,5 miliar rupiah untuk kampanye dan sosialisasi dukungan bahaya rokok kretek dan regulasi antitembakau di tanah air. Dana didapatkan dari Bloomberg Initiative Program, yaitu program antitembakau yang didanai oleh walikota New York, Amerika Serikat, Michael R Bloomberg.

Tidak kurang dari 6,4 juta US Dolar telah dikucurkan oleh Bloomberg untuk membiayai semua kampanye, sosialisasi dan advokasi program antitembakau di tanah air. [pri/mus]

Tags:

Rating artikel: star goldstar goldstar goldstar goldstar gold (2 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
Peraturan Komentar