Petani Sudah Sangat Menderita, Stop Impor Tembakau Sekarang Juga!

Surabaya, Seruu.com - Nasib ribuan petani tembakau Indonesia, diprediksi dalam waktu singkat akan bertumbangan. Bukan mustahil, kondisi ini akan terus terjadi jika pemerintah tak mampu lagi membendung ‘serbuan’ tembakau impor, khususnya jenis virginia yang dalam setahunnya mencapai 53 ribu ton.


Bukan tanpa alasan, kebijakan impor tembakau yang selama ini dilakukan karena mahalnya harga tembakau lokal yang dihasilkan petani. Hal inilah yang kemudian menjadi pembenar untuk tidak adanya batasan terhadap kebijakan importasi tembakau mancanegara ke Indonesia.


“Bayangkan saja, dari 53 ribu ton tembakau impor yang kebanyakan dari China, 44.975 ton diantaranya adalah jenis tembakau Virginia. Jenis tanaman ini (tembakau virginia, red) juga ditanam petani lokal,” ungkap Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Penyelamatan Industri Hasil Tembakau Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Dedy Suhajadi mengomentari regulasi tentang pembatasan impor tembakau, Jumat (13/7) petang.


Kondisi ini dinilai akibat tidak adanya regulasi yang jelas terkait pengaturan dan pembatasan importasi tembakau asing. Belum lagi, keinginan industri rokok yang disinyalir kian memperparah keadaan petani tembakau dalam negeri. “Industri rokok hanya ingin mengambil untung dari murahnya membeli tembakau impor. Padahal, tembakau lokal yang dihasilkan petani tidak kalah kualitasnya,” katanya.


Berdasarkan catatan yang dikumpulkan, harga jual tembakau virginia impor perkilogramnya berkisar antara 2-3 dollar AS atau setara dengan Rp 27 ribu. Sedangkan, harga yang dipatok untuk tembakau lokal mencapai Rp 30 ribu/kilogram.


“Dan Jawa Timur adalah pemasok tembakau terbesar di Indonesia. Petani Jawa Timur mampu menghasilkan 65% dari total produksi tembakau secara nasional tahun 2011 lalu yang berkisar 144.000 ton,” kata Dedy.


Meski demikian, Dedy mengakui, pemerintah tidak bisa menutup laju produk luar negeri yang masuk ke Indonesia. Sebab, pemerintah terhalang kesepakatan yang terjalin melalui kerjasama organisasi perdagangan dunia atau World Trade Organization (WTO). “Tapi, paling tidak ada kebijakan secara regional yang menguatkan regulasi tentang kuota impor produk asing yang masuk ke Jawa Timur,” ujarnya.


Lantas bagaimana solusinya ? “Paling tidak, Gubernur bisa menerbitkan perda (peraturan daerah, red) tentang pembatasan kuota impor yang masuk ke Jawa Timur,” kata Dedy.


Ia juga menyarankan, agar Kementerian Perdagangan melalui Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) melakukan kajian untuk mengurangi masuknya importasi tembakau, khususnya jenis virginia. “Dengan begitu akan ada tambahan biaya masuk untuk jenis produk impor tembakau virginia,” ingatnya.


Mengomentari hal ini, ahli pertembakauan Indonesia asal Jember, Prof Dr Samsuri Tirtosastro menyatakan, kualitas tembakau yang dihasilkan petani lokal tidak kalah dibanding tembakau impor.


“Kualitas tembakau yang diimpor tidak lebih bagus dari tembakau kita, kalau pemerintah lebih perhatian, ada dukungan dari sektor pertanian dan modal, saya kira harga produksi petani tembakau kita, bisa juga ditekan agar harga bersaing,” ujar Samsuri.


Perlindungan bagi petani tembakau, bisa dilakukan dengan pembatasan impor berdasarkan kuota. Bisa juga dengan kebijakan kementrian perdagangan melalui Komite Pengamanan Perdagagan Indonesia (KPPI) dengan menerapkan bea masuk. "Yang terpenting adalah pembinaan dan dukungan bagi petani tembakau dari berbagai sektor," kata Prof Samsuri.

Hal senada diungkapkan oleh Abdul Kahas Muzakir, Wakil Ketua Komisi Usaha Tembakau (KUT) Jember usai dialog. “Saya pikir tidak perlu harus mengimpor, selagi produktivitas tembakau dalam negeri terpenuhi dengan kualitas yang mencukupi,” ujarnya. . [ndis]

Tags:

Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
Peraturan Komentar