Menakar Janji Sumpah Pemuda
Oleh Ahmad Rahayu, Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Rokan Hulu, Riau

Seruu.com - Delapan puluh empat tahun yang lalu, para pemuda bangsa Indonesia menorehkan tinta emas dalam catatan sejarah perjuangannya. Catatan sejarah itu mengatakan bahwa pada tanggal 28  Oktober 1928 di Gedung Oost-Java Bioscoop (sekarang Museum Sumpah Pemuda) Jakarta diselenggarakan Kongres Pemuda ke 2. Hasil Kongres Pemuda Kedua ini, selain diperdengarkan Lagu Indonesia Raya oleh Wage Rudolf  Supratman melalui gesekan biolanya, juga dibacakan rumusan hasil kongres yang selanjutnya disebut Sumpah  Pemuda. Lalu kemudian disepakati bahwa deklarasi Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia para pemuda untuk menjadi satu bangsa yaitu bangsa Indonesia.

Janji sumpah pemuda itu berbunyi: Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku, berbangsa satu bangsa Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Makna dan semangat sumpah pemuda itulah yang kemudian menentukan arah perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari cengkeraman Kolonialisme/Imperialisme.

Lain dahulu lain sekarang, semangat persatuan dan kesatuan yang termanifestasikan ke dalam bingkai ke-Indonesiaan yang digagas para pemuda tersebut kini mulai luntur. Persatuan dan kesatuan yang dulu menjadi ruh perjuangan pemuda, sekarang telah berganti dengan semangat individualisme, primordialisme, dan semangat etnosentrisme yang chauvinistis (sempit). Perkelahian antar pemuda sesama anak bangsa kian marak terjadi. Tawuran antar pelajar yang kerap mengorbankan nyawa terus membudaya. Pertikaian antar umat beragama dan kepercayaan terus menebar ancaman terhadap eksistensi kerukunan antar lintas agama dan kepercayaan. Semangat kedaerahan lebih ditonjolkan daripada semangat persatuan dan kesatuan nasional.

Kompleksitas Masalah

Pertanyaannya, mengapa spirit persatuan dan kesatuan tersebut mulai memudar bahkan terkesan runtuh dari buminya. Meninggalkan keprihatinan yang mendalam bagi siapa saja yang mendambakan akan  persatuan dan kesatuan. Secara kasat mata kita dapat menyebutkan bahwa ada beberapa indikator yang dapat dijadikan sebagai sebuah jawaban atas pertanyaan diatas.

Pertama, lebih dikedepankannya semangat individualisme daripada semangat kolektif/persatuan nasional. Padahal, individualisme jelas bertentangan dengan semangat Sumpah Pemuda yang mencita-citakan persatuan bangsa, membangun jiwa gotong royong, rasa senasib dan sepenanggungan. Karena dengan semangat persatuan dan  kesatuan itulah  pemuda mampu tampil menjadi motor perjuangan merebut bangsa ini dari tangan para penjajah. Kondisi hari ini, semangat itu hampir sirna sama sekali. Kepentingan individu lebih menonjol daripada kepentingan bersama. Istilah Betawinya adalah siape loe siape gue.
Kedua, semangat primordialisme yang kian menguat sehingga dengan tanpa sadar telah membangun sekat-sekat keberagaman dalam kehidupan berbangsa. Di satu sisi, semangat kedaerahan memang perlu ditumbuhkan untuk memacu pertumbuhan dan kemajuan suatu daerah. Tetapi semangat tersebut semestinya tetap diletakkan dalam kerangka persatuan nasional. Sebab, jika semangat kedaerahan terlalu berlebihan, maka dapat menjelma menjadi primordialisme yang akan mengancam persatuan nasional.

Dalam sejarahnya, Indonesia merupakan satu entitas bangsa yang terdiri dari kesatuan budaya yang kompleks. Sejak berabad-abad lamanya keragaman suku dan tradisi tumbuh subur dan menjadi kekayaan tersendiri bagi bangsa ini. Tidak kurang dari 360 bahasa dan ratusan budaya memenuhi khazanah kebudayaan Indonesia. Hal ini merupakan satu bukti nyata bahwa bangsa ini mempunyai daya kreasi dan nilai-nilai kehidupan yang tinggi.

Di satu sisi, kompleksitas budaya tersebut kita akui sebagai khazanah budaya yang bernilai tinggi. Akan tetapi di sisi lain, ketika dua karakter sosial dan budaya bertemu, primordialisme seakan menjadi satu sekat yang membuat mereka benar-benar menjadi dua entitas berbeda, menjadi seperti air dan minyak. Rasa kesukuan menjadi tameng utama dalam menghadapi budaya dan bahasa suku lain. Misalnya seseorang yang berbahasa Jawa dalam lingkungan Melayu akan dianggap inferior dan lebih ekstrim lagi ditertawakan dan di cemeeh. Begitupun dengan suku lain yang juga mendiskreditkan budaya bangsa yang bukan berasal dari sukunya. Apabila kondisi seperti ini dibiarkan terus menerus, maka dapat berpotensi terjadinya disintegrasi bangsa. Masalah ini menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan NKRI.

Mencintai dan berusaha untuk melestarikan budaya lokal (kearifan lokal) adalah sesuatu yang penting. Itu sebagai wujud daripada rasa memiliki serta tanggungjawab terhadap entitas budaya lokal. Akan tetapi, kalau hal tersebut dilakukan secara berlebihan maka yang akan muncul adalah perilaku primordialisme yang dapat mengganggu semangat kebersamaan yang hidup didalam entitas bangsa yang multikultural. Hal ini tentu akan sangat bertentangan dengan semangat sumpah pemuda yang merupakan cikal bakal berdirinya bangsa Indonesia.

Ketiga, lahirnya Etnosentrisme. Perilaku primordialisme yang berlebihan ditengah masyarakat akan dapat menimbulkan perilaku etnosentrisme. Menjadikan budaya sendiri sebagai parameter penilaian terhadap budaya lain. Hal ini sesuai dengan apa yang di katakan oleh Zatrow (1989) bahwa “Etnosentrisme merupakan suatu kecenderungan untuk memandang norma-norma dan nilai dalam kelompok budayanya sebagai yang absolute dan digunakan sebagai standar untuk mengukur dan bertindak terhadap semua kebudayaan yang lain.” Sehingga etnosentrisme memunculkan sikap prasangka dan streotip negatif terhadap etnik atau kelompok lain.

Berbagai peristiwa yang terjadi akibat konflik kepentingan etnis di nusantara akhir-akhir ini seolah-olah menjadi trend dunia. Jika di Afrika terjadi pertikaian etnis antara suku Tutsi dan suku Hutu ( Ruwanda – Burundi ), suku Kurdi di Turki, suku Tamil di Ceylon, yang terbaru adalah konflik etnis di Rohingya Myanmar, maka di Indonesia juga sering terjadi pertikaian etnis seperti Madura, Makassar, Banten, Dayak, Melayu (Kalbar) dan suku-suku di Irian ( Papua ). Penyebab utamanya adalah sikap etnosentrisme yang berlebihan, sehingga memandang rendah terhadap kelompok/suku yang lain. Hal ini juga disebabkan oleh tersumbatnya komunikasi antar budaya (Kadir: 2001).

Sungguh aneh dijaman modern ini bisa terjadi, padahal dijaman kuno hubungan antar etnis sering dilakukan oleh saudagar Cina, Madagaskar, India dan bangsa lainnya tanpa pertumpahan darah bahkan sering terjadi perkawinan antar etnis untuk melanggengkan tali kekeluargaan. Kita kenal komunikasi antar budaya Cina ke Eropah dan Asia dengan “ Jalur Sutera, “ yang selain bermisi dagang juga memiliki misi budaya.

Anak Semua Bangsa
    
Semangat persatuan dan kesatuan kini tengah mencapai titik terendah dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Disebabkan oleh semakin  melemahnya kesadaran masyarakat terutama pemuda akan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme. Dampaknya adalah semakin menguatnya sikap individualisme, primordialisme, dan etnosentrisme di negeri yang multi kompleks dan multi kultural ini. Namun belum terlambat, andaikata seluruh elemen bangsa terutama pemuda mau memaknai kembali semangat sumpah pemuda Indonesia. Merefleksikan makna yang terkandung didalamnya serta mengaktualisasikannya kedalam kehidupan yang nyata.

    
Bukankah dahulu sumpah pemuda dimotori oleh pemuda-pemuda Indonesia yang berasal dari suku-suku, adat-istiadat, dan agama yang berbeda? Para peserta Kongres Pemuda II tersebut berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat. Mereka berasal dari latar belakang budaya, adat-istiadat, suku, agama yang berbeda. Tetapi mereka tetap berasal dari rahim yang sama yaitu Indonesia.
    
Andaikata, para pelaku sejarah sumpah pemuda Indonesia hidup pada saat sekarang ini. Dapat kita bayangkan bagaimana mereka akan menangis dan meratap melihat fondasi persatuan dan kesatuan yang telah diletakannya kuat-kuat pada bangsa ini dirusak oleh para penerusnya. Menyaksikan pertikaian antar sesama anak bangsa yang sama sekali bertentangan dengan semangat sumpah pemuda itu sendiri. Menyaksikan pemuda-pemuda Indonesia tidak lagi bersatu yang mengakibatkan pemuda menjadi semakin lemah dan tidak produktif. Cita-cita besar dan perjuangan terhadap bangsanya tidak lagi sejalan dengan apa yang diharapkan. Pemuda-pemuda Indonesia seakan teraleniasi dengan semangat sumpah pemuda dan cita-cita Foundhing Fathers bangsanya.

Kita semua adalah anak semua bangsa (meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer). Anak yang lahir dari rahim yang sama yaitu Indonesia. Lahir dari rakyat yang berjuang untuk kemerdekaannya. Lahir dari bangsa yang multi kompleks dan multi kultural. Dari sebuah tekad persatuan dan kesatuan serta sumpah setia terhadap bangsanya. Sebuah tekad yang kemudian dimanifestasikan ke dalam bentuk perjuangan untuk melepaskan bangsanya dari cengkeraman tangan penjajah. Dari sebuah semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang membungkus segala bentuk perbedaan kedalam sebuah entitas kebhinekaan.

Semangat sumpah pemuda dapat kita makanai kembali dan diaktualisasikan ketika tidak ada lagi diskriminasi antar budaya yang satu terhadap budaya yang lain. Tidak ada lagi pembedaan perlakuan pemerintah terhadap pemuda kota dan pemuda desa. Kembalinya kesadaran masyarakat terutama pemuda akan arti pentingnya sebuah persatuan dan kesatuan dalam meneruskan dan mengisi kemerdekaan. Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua yaitu Indonesia.

Pada akhirnya, penulis mengucapkan selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 – 28 Oktober 2012. Semoga semangat persatuan dan kesatuan tetap terpatri di dalam dada pemuda Indonesia dan  meneruskan makna historisitas Sumpah Pemuda serta memahami makna filosofisnya. Ikrar Satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yakni Indonesia sejatinya tidak hanya sekedar dibacakan pada seremoni tanggal 28 Oktober disetiap tahunnya. Membaca Sumpah Pemuda tidak hanya sebatas kontekstualnya saja. Akan tetapi, pemahaman makna serta aktualisasi ke dalam karya nyata menjadi suatu tuntutan keharusan kepada pemuda-pemuda Indonesia.

Peraturan Komentar