Presiden Meminta Kepala Daerah Kendalikan Inflasi dan Intervensi
Presiden Joko Widodo.

Jakarta, Seruu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta kepada kepala daerah, seperti gubernur, bupati, dan wali kota untuk secara serius memperhatikan angka inflasi di daerahnya masing-masing. Bagi yang belum memiliki Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dihimbau untuk segera dibentuk.

"Kalau bisa ada anggaran untuk pengendalian harga. Sehingga begitu bergejolak langsung bisa dilakukan intervensi," tandas Jokowi. Pertumbuhan ekonomi, menurut Presiden, memang penting tetapi inflasi juga sangat penting. Ia melihat beberapa inovasi yang sangat baik.

Di Jawa Timur, intervensi ada di sisi transportasinya, bisa juga di Pak Gubernur, sedangkan wilayah Jakarta, intervensinya terletak pada harga, misalnya harga daging yang dijual di pasar mencapai Rp110 ribu–Rp120 ribu/kg, di jual oleh Gubernur DKI Rp39.000/kg.

"Saya kira kota-kota yang lain bisa melakukan itu, selain hal-hal rutin yang sering kita lakukan, pasar murah, pasar murah, ya itu bisa. Tapi kalau lebih menyasar, lebih detil akan lebih baik," tutur Presiden Jokowi.

Ia juga meminta agar Polres, Kejaksaan, Pemda, dan Bank Indonesia setiap minggu, setiap 2 minggu, setiap bulan melakukan cek ke gudang-gudang penyimpanan bahan-bahan pokok, apakah mereka menumpuk terlalu banyak atau mau mempermainkan harga atau apakah mereka tidak punya stok.

Itu harus kita ketahui, kalau stoknya sudah tipis, perlu sebuah tindakan untuk memperbesar stok yang ada di situ. Tetapi kalau bertumpuk-tumpuk, hati-hati ini mau main-main stok. "Langsung perintah mereka untuk mengeluarkan stok sehingga harga di kota, kabupaten, dan provinsi akan menjadi stabil lagi," tegas Presiden.

Di akhir pengantarnya, Presiden Jokowi memaparkan gambaran mengenai pertumbuhan ekonomi inflasi dan pertumbuhan ekonomi inflasi. Jokowi mengingatkan agar jangan senang dulu kalau memiliki pertumbuhan ekonomi 9%. Bila pertumbuhan ekonomi 9% tapi inflasi 15%, maka rakyat tekor 6%.

"Punya uang tapi mau beli sesuatu dia mahal. Kita harus ngerti itu. Kalau pertumbuhan ekonomi 9, inflasinya 3, ini yang kita cari. Berarti rakyat beli itu mudah sekali untuk menjangkau harga yang dijual itu mudah,” papar Presiden.

"Oleh sebab itu harus kita kendalikan. Hati-hati, jangan bangga dulu terhadap yang namanya pertumbuhan ekonomi kalau tidak bisa mengendalikan inflasi," kata Jokowi.

Ia menunjukkan contoh Singapura misalnya, yang inflasinya malah minus 0,54%. Sementara Malaysia pada 2015 sebanyak 2,1%, Amerika 0,12%, Eropa 0,04%. Sedangkan Indonesia 2014 ada 8,36%, 2015 sebanyak 3,35 persen, dan 2016 ini diharapkan juga antara 3-4.

Presiden Jokowi meminta agar range-nya kita atur seperti itu dan pada hun 2018 nanti, 3,5 plus dan minus, pokoknya harga terus-menerus  harus turun, harus turun, harus turun," Pungkas Presiden.

[hs]

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU