Dukung Program Tax Amnesty, Pemerintah Siapkan Peluang Investasi
Presiden Jokowi memaparkan program tax amnesty di Semarang (9/8).

Semarang, Seruu.com - Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik telah mendorong semua negara untuk berusaha menarik investasi dan meningkatkan arus uang masuk sebesar-besarnya. Inilah yang saat ini dilakukan oleh Pemerintah, ujar Presiden Joko Widodo (Jokowi), melalui program pengampunan pajak (tax amnesty).

Pemerintah mengharapkan agar uang yang sudah masuk, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri bisa langsung dimanfaatkan untuk investasi. Pemerintah telah menyiapkan instrumen investasi portofolio, antara lain Surat Berharga Negara (SBN), Surat Utang Negara (SUN), dan Surat Berharga Syariah Negara (Sukuk).

"Kalau BUMN bisa obligasi, bisa saham, ada infrastruktur, reksadana, perbankan (deposito, giro, tabungan) bisa langsung dimasukkan langsung ke sana kepada bank-bank yang sudah ditunjuk," papar Presiden pada sosialisasi tax amnesty, di Rama Shinta Ballroom, Hotel Patra Jasa, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (9/8) malam.

Untuk bersaing dan berkompetisi dengan bangsa lain, jelas Jokowi, Indonesia harus siap. Dengan perubahan dunia yang terjadi dalam hitungan detik, Pemerintah harus cepat memutuskan agar tidak tertinggal dengan bangsa lain.

"Biasanya kerja satu shift, dua shift tidak mau saya, kerja tiga shift, kita kejar. Ini kebutuhan bukan keinginan," ujarnya seraya menjelaskan, hingga kuartal kedua, pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan sentimen positif dan menunjukkan tren yang terus naik.
Presiden Jokowi menjelaskan bahwa, di kuartal pertama, tumbuh 4,94 persen, sedangkan di kuartal kedua naik menjadi 5,18 persen. "Sedikit-sedikit tapi naik. Kesempatan ini harus kita gunakan. Jangan lepas," tegasnya.

Ketersediaan Instrumen Investasi

Presiden menjelaskan bahwa selain instrumen investasi portofolio yang tersedia, investasi juga bisa dilakukan di sektor-sektor lain seperti infrastruktur, padat karya, kelautan, pertanian, pariwisata, hingga properti. Pemerintah akan membagi sektor ini dalam 3 kategori, besar, sedang, dan kecil, agar investor bisa memilih kategori yang sesuai kemampuannya.

"Pemerintah saat ini baru konsentrasi, baru fokus pada infrastruktur. Bisa ikut masuk ke pembangunan pelabuhan. Ada yang besar misalnya Pelabuhan Kuala Tanjung, Tanjung Priok, Makassar New Port, Sorong, atau yang kecil-kecil," jelas Jokowi.

Selain itu, lanjut Jokowi, proyek infrastruktur lain yang bisa dimasuki adalah pembangunan jalan tol di berbagai wilayah seperti Sumatera (Lampung sampai ke Aceh); Kalimantan (Balikpapan ke Samarinda); dan Sulawesi (Manado ke Bitung).

Ada juga proyek jalur kereta api (Sumatera dan Sulawesi); transportasi massal di kota-kota besar seperti MRT (Jakarta) dan LRT (Jabodetabek dan Palembang); airport; dan tenaga listrik baik skala besar, sedang, dan kecil yang juga bisa dimasuki.

"Hingga 71 tahun merdeka, listrik kita baru 53 ribu megawatt. Target kita dalam lima tahun 35 ribu megawatt," tambah Presiden Jokowi saat menjelaskan peluang investasi di sektor tenaga listrik yang masih terbuka lebar.

Beberapa sektor lain yang juga memiliki banyak peluang adalah sektor padat karya yang dapat membuka lapangan pekerjaan, seperti otomotif dan garmen/tekstil. Untuk menstimulus investasi di sektor ini, Pemerintah berjanji akan mempermudah perizinan.

"Kalau ada yang membangun pabrik yang berkaitan dengan yang padat karya, buka sudah. Beri kesempatan. Bantu mereka yang berkaitan dengan perizinan. Jangan justru disulit-sulitin. Kalau bisa sehari, beri izin sehari," tegas Jokowi.

Kalau sebelumnya satu perizinan di BKPM (Badan Koordinasi Penananaman Modal) membutuhkan waktu berbulan-bulan. Namun saat ini, ujar Jokowi, delapan izin bisa selesai dalam waktu tiga jam. Pemerintah telah memotong 3.153 peraturan daerah (Perda), dari 42.000 peraturan daerah yang ada untuk mempercepat percepatan pembangunan di berbagai sektor.

Di sektor perikanan, lanjut dia, investasi bisa dilakukan dengan membangun cold storage dan pengalengan ikan. Potensi ini masih terbuka luas karena duapertiga wilayah Indonesia adalah  perairan. Ia mengungkapkan bahwa permintaan dari Amerika, China, dan Eropa terhadap jenis ikan dari perairan Indonesia cukup besar.

"Sektor ini semakin menjanjikan karena sejak tahun lalu, Pemerintah berkomitmen memberantas kapal ilegal. Sebanyak 176 kapal telah ditenggelamkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti," jelas Presiden.

Di sektor pertanian, khususnya yang berkaitan dengan komoditas gula dan jagung juga sangat menjanjikan. Ia mengungkap bahwa saat ini, Indonesia masih mengimpor 3,4 juta ton gula per tahun, masih ada peluang untuk membangun pabrik gula dan perkebunan tebu. Selain itu, Indonesia juga masih mengimpor 3,2 juta ton jagung per tahun.

Di sektor pariwisata, Pemerintah saat ini tengah mendorong promosi sepuluh destinasi wisata Indonesia selain Bali. Beberapa destinasi tersebut, menurut Presiden, antara lain Danau Toba, Tanjung Layang, Mandalika, Wakatobi, Morotai, Pulau Komodo, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo Tengger, dan Tanjung Lesung.

Pemerintah akan terus berupaya untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia yang saat ini baru mencapai 9 juta. Masih kalah dengan Malaysia yang mencapai 24 juta per tahun dan Thailand yang mencapai 27 juta per tahun. Yang perlu dilakukan adalah memperbaiki kemasan dan membangun infrastrukturnya.

"Ini ada kesempatan mendirikan resort di situ, dirikan hotel di situ. Target kita sampai tahun 2019, 20 juta turis harus ke Indonesia. Kita mau kerja keras, kita mau mati-matian agar angka tersebut bisa tercapai. Tahun ini targetnya 12 juta," tambah Presiden Jokowi.

Pemerintah juga membuka peluang investasi di sektor properti, lanjut Presiden, khususnya kebutuhan rumah karena kebutuhan rumah khususnya di kota masih kurang sekitar 13 juta rumah pada tahun 2016. Presiden menegaskan, program tax amnesty tidak akan terulang lagi, sehingga harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

[hs]

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU