Presiden: Kompetisi Persaingan Antar Negara Saat Ini Amat Sengit
Presiden Jokowi, Menko Polhukam dan Mendagri menghadiri Rakernas I ADKASI, di Hall C2 JI Expo Kemayoran, Jakarta, Selasa (30/8). (Foto: Oji)

Jakarta, Seruu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa kompetisi persaingan antar negara sekarang ini sangat sengit. Nantinya persaingan antar daerah juga akan terjadi. Sekarang baru dibuka hanya ASEAN, ASEAN Economi Community, tapi nantinya pertarungan itu juga antar kawasan.

Kadang-kadang kalau ketemu dengan kepala negara, kepala pemerintahan di ASEAN, kalau ketemu kelihatannya kita ini kan tetangga satu grup ASEAN, kalau foto, fotonya pasti bergandengan seperti ini. Tapi sadarlah kita semuanya bahwa apapun mereka ini adalah pesaing-pesaing kita.

"Kita harus sadar mereka adalah pesaing," ujar Presiden Jokowi saat membuka Rapat Kerja Nasional I Asosiasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI), di Hall C2 Jakarta Internasional Expo Kemayoran, Jakarta, Selasa (30/8) sore.

Dengan posisi persaingan dan kompetisi seperti ini, lanjut Jokowi, mereka adalah pesaing kita. Belum kita masuk ke kawasan yang lain. Sekarang sudah ada grup-grup besar, ada ASEAN Economi Community, ada TPP, ada RCEP. TPP grupnya Amerika, RCEP grupnya China, ada EU grupnya Uni Eropa. "Inilah persaingan yang betul-betul sudah kita jalani sekarang ini, dan akan lebih besar akan kita hadapi," jelas Presiden Jokowi.

Meski demikian, Presiden meyakini persaingan ini akan kita menangkan kalau kita ini bergandengan dalam satu kesatuan, dari pusat sampai ke daerah harus sinergi total. “Kalau nanti ada Pilpres, ya sudah tarungnya nanti saja. Sekarang ini kerja semuanya bareng-bareng untuk negara kita yang kita cintai,” tegasnya.

Ia mengambil contoh peringkat kemudahan berusaha di Indonesia yang masih kalah dibandingkan negara-negara lain, bandingkan. "Mari kita lihat, Singapura nomor 1, Malaysia nomor 18, Thailand nomor 49, kita lihat di layar, Indonesia coba, nomor 109. Mau apa kita? Mau bersaing dengan cara apa kalau nomor urutnya masih sepertii itu. Kita masih 109, Singapura nomor 1, Malaysia 18, Thailand 49, mau apa?," tanya Presiden Jokowi.

Indeks daya saing global kita, lanjut Presiden, juga sama. Kita masih pada posisi keempat di ASEAN, ke- 37 di dunia di global. Karena itu, inilah yang harus kita perbaiki ke depan.

Untuk itu, ia meminta kepada para pimpinan dan anggota DPRD seluruh Indonesia yang hadir di acara rapat kerja itu, agar kalau membuat Peraturan Daerah (Perda) buatlah yang memberikan kemudahan masyarakat untuk berusaha. Jangan membuat Perda yang membebani. Sebab, kalau membebani justru investasi itu tidak akan masuk.

"Kalau investasi tidak masuk di sebuah daerah artinya perputaran uang di daerah itu juga akan tidak akan bertambah, hanya ketergantungan pada APBD. Kalau tidak ada investasi tidak ada lapangan pekerjaan. Kalau tidak ada lapangan pekerjaan daya beli masyarakat pasti akan anjlok," jelasnya seraya menegaskan, bahwa kuncinya sekarang ini di investasi karena daya dukung dari APBN kita itu juga sebetulnya hanya 80 persen dari keseluruhan perputaran uang yang ada.

"Kenapa kemarin kita juga membatalkan 3.143 Perda, karena itu tidak ramah terhadap investasi, tidak ramah kepada perdagangan, malah menyulitkan, nambah-nambahin, tidak memudahkan tapi berbelit-belit masalah, nambahin urusan kalau kita ingin mengurus sesuatu," ujarnya.

Presiden Jokowi berharap kepada pimpinan dan anggota DPRD, kalau ada kepala daerah yang mengajukan itu dan melihat itu malah nambahkan ruwet, sebaiknya dikembalikan saja. Sekarang kita harus berpikir simpel seperti itu. Presiden mengaku juga sudah menyampaikan ke Ketua DPR RI agar tidak usah membuat undang-undang yang terlalu banyak.

"Setahun 40, kalau sudah undang-undangnya keluar apa yang kejadiannya? Pasti pemerintah buat PP, kalau sudah buat PP nanti saya membuat Perpres, kalau saya buatkan Perpres menterinya buatin Permen, ya kan. Waduuuh," papar Presiden Jokowi yang disambut senyum anggota DPRD dari seluruh Indonesia itu.

Presiden mengingatkan, sekarang ini perubahan dunia detik demi detik, menit demi hari, berubah-ubah terus. Karena itu kita jangan menjerat diri kita sendiri, tidak fleksibel, tidak cepat memutuskan.

"Apa mau kita terus-terusan? Buat saya jawaban saya tidak, ndak. Produksi undang-undang itu sedikit ndak apa-apa, tapi kualitasnya yang baik. Membuat Perda juga ndak apa sedikit, yang penting kualitasnya yang baik, yang mendongkrak kesejahteraan, yang mendongkrak ekonomi di daerah. Jangan tiap hari memproduksi Perda, Pelaksanaannya yang bingung," tegasnya Jokowi.

[hs]

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU