Bertemu Jokowi, Pospera NTT Curhat Guru Yang di Kriminalisasi
Presiden Jokowi bertemu dan berdialog dengan sejumlah pengurus DPD Pospera NTT di sela-sela kunjungan kerjanya di Kupang, Rabu

Kupang,Seruu.com- Presiden Jokowi bertemu dan berdialog dengan sejumlah pengurus DPD Pospera NTT di sela-sela kunjungan kerjanya di Kupang, Rabu (28/12/2016). Ormas relawan Jokowi itu banyak curhat dengan Presiden. Salah satu poin diskusi terkait dugaan kriminalisasi hukum yang menimpa seorang guru di Nusa Tenggara Timur tersebut.

 

Dalam pesan singkatnya kepada Redaksi Seruu.com, Kamis petang, Ketua DPD Pospera NTT, Ianto Lily mengungkapkan bahwa Welly Dimoe Djami seorang Guru SMA Sinar Pancasila menemui Presiden Jokowi di Hotel Aston, Kupang, menceritakan mengenai ketidakberesan proses hukum yang dialaminya.

Pospera melaporkan adanya penyalahgunaan bantuan pendidikan yang mengakibatkan Welly Djami dipolisikan oleh salah satu anggota DPR RI Partai Demokrat, Jefrison Riwu Kore. "Welly Djami melaporkan Jefrison Riwu Kore karena menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan politiknya. Yang mana, dana bantuan pendidikan bagi warga miskin malah di pakai untuk kampanyenya saat pencalegan DPR RI 2014. Namun justru saat ini ibu Welly yang mengalami masalah hukum, " jelasnya.

"Ibu Djami menemukan beberapa pelaggaran yang dilakukan Jerfison Riwu Kore dengan memakai dana bantuan pendidikan untuk kepentingan politiknya. Anggota DPR RI non aktif ini membuat formulir bantuan beasiswa pendidikan yang di dalamnya ada nama Jerfi Riwu Kore dan menyarankan kepada penerima bantuan beasiswa untuk mencoblosnya pada pileg 2014, " tambah Ianto.

Namun, ditegaskannya, pelaporan itu memberi dampak yang buruk bagi ibu Welly. Ibu ini dilaporkan kembali ke kepolisian dengan alasan pencemaran nama baik. Akibatnya ibu Welly harus di sidang berbulan bulan dan berakhirnya dengan putusan bebas oleh pengadilan tinggi Kupang.

Sesudah itu, persoalan tak kunjung usai dialami oleh kepala sekolah "Sinar Pancasila" ini.  Ibu ini kembali dilaporkan Jefri Riwu Kore dengan tuduhan penggelapan uang 19 juta. Namun, kasusnya ini masih mengambang karena tidak ada saksi, siapa yang dirugikan, dana apa yang digelapkan. Kasus ini akan diadili pada 3 Januari 2017, " jelas Ianto.
 
Sebelumnya, Kepala Dinas kab. Sabu Raijua mengalami nasib yang sama bahkan sempat dihukum penjara. Begitu juga dua warga Molo TTS yang juga dipenjara, masyarakat Molo pernah datang ke Kapolda NTT waktu itu masih dipimpin bpk. Endang Sanjaya dengan membawa barang bukti selebaran folmulir beasiswa pendidikan yang berisikan nama Jefrison Riwu Kore partai demokrat namun mereka yang dituntut balik.

"Masalah yang terus dihadapi oleh Ibu Welly mengkibatkan sekolah yang dibangun 52 tahun silam oleh Opanya (Kakek)  Cornelis Dimoe Djami putra sulung Pahlawan Nasional asal NTT, Frans Dimoe Djami yang mantan ketua PNI (Partai Nasionalis Indonesia), Kupang NTT, kini ditutup. akibatnya, para guru harus berhenti mengajar dan ratusan siswa terancam putus sekolah, " tambah Ianto.

Di pertemuan singkat itu, Presiden Jokowi merespon baik masalah yang disampaikan Pospera dan memanggil Menteri Pratikno untuk mengambil datanya. Pospera percaya bahwa masalah yang terjadi akan diselesaikan oleh Jokowi. " Karena bagi Pospera Presiden Jokowi adalah mata, telinga, hatinya untuk rakyat Indonesia, " tutup Ianto Lily. [ndis]

BAGIKAN

Tags:



Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU